Scan barcode
A review by diaratewi
Rapijali 1: Mencari by Dee Lestari
5.0
Rapijali adalah buku pertama setelah puluhan bulan (jadi mungkin beberapa tahun, ya) yang saya habiskan dalam satu kali duduk. Buku ini bercerita tentang Ping, music prodigy dari Batu Karas yang harus pindah ke ibukota dan beradaptasi dengan kehidupan barunya. Premis sederhana, disampaikan dengan bahasa yang sederhana pula, tapi buat saya sangat magis.
Jelas saya sudah nggak di umurnya lagi untuk digging cerita-cerita coming-of-age. Yang membuat saya tertarik pada buku ini in the first place pun semata-mata adalah penulisnya: Dewi Lestari. Tapi memangnya perlu alasan apa lagi? Menyulap cerita yang, seperti kata saya tadi, berpremis sederhana menjadi luar biasa ya cuma bisa dilakukan orang-orang tertentu. Buku ini buktinya! Dengan penulisan yang tidak sebaik ini, saya rasa Rapijali punya potensi untuk jadi teenlit picisan yang membosankan. Atau mungkin ini bias karena saya sudah suka Dewi Lestari lama sekali dan karena saya suka musik yang jadi tema utama buku ini? Bisa jadi, tapi saya kira bukan itu.
Kejadian-kejadian di Rapijali mudah sekali saya putar seperti film di kepala saya, tentu saja berikut seluruh tokoh, latar tempat, bahkan musik-musiknya. Praktisnya, membaca buku ini membuat saya jadi "sutradara dadakan", dan bukannya itu yang kita semua cari saat membaca buku fiksi? Jadi, bagi saya, meski plotnya tidak sekompleks Supernova atau seimajinatif Aroma Karsa, buku ini bernilai lima bintang karena ia sederhana, tetapi manis sekaligus menghipnotis. Kalau kamu mengharapkan klimaks yang dramatis, kamu mungkin akan (sedikit) kecewa, tapi dicoba dulu saja, barangkali jatuh suka?
PS. Saya naksir Rakai.
Jelas saya sudah nggak di umurnya lagi untuk digging cerita-cerita coming-of-age. Yang membuat saya tertarik pada buku ini in the first place pun semata-mata adalah penulisnya: Dewi Lestari. Tapi memangnya perlu alasan apa lagi? Menyulap cerita yang, seperti kata saya tadi, berpremis sederhana menjadi luar biasa ya cuma bisa dilakukan orang-orang tertentu. Buku ini buktinya! Dengan penulisan yang tidak sebaik ini, saya rasa Rapijali punya potensi untuk jadi teenlit picisan yang membosankan. Atau mungkin ini bias karena saya sudah suka Dewi Lestari lama sekali dan karena saya suka musik yang jadi tema utama buku ini? Bisa jadi, tapi saya kira bukan itu.
Kejadian-kejadian di Rapijali mudah sekali saya putar seperti film di kepala saya, tentu saja berikut seluruh tokoh, latar tempat, bahkan musik-musiknya. Praktisnya, membaca buku ini membuat saya jadi "sutradara dadakan", dan bukannya itu yang kita semua cari saat membaca buku fiksi? Jadi, bagi saya, meski plotnya tidak sekompleks Supernova atau seimajinatif Aroma Karsa, buku ini bernilai lima bintang karena ia sederhana, tetapi manis sekaligus menghipnotis. Kalau kamu mengharapkan klimaks yang dramatis, kamu mungkin akan (sedikit) kecewa, tapi dicoba dulu saja, barangkali jatuh suka?
PS. Saya naksir Rakai.